Wayang Mpopetir atau Wayang Potehi adalah salah satu bentuk seni pertunjukan tradisional Tionghoa yang berkembang di Indonesia. Pertunjukan ini menggunakan boneka tangan yang dimainkan oleh seorang dalang di balik layar. Tradisi ini telah ada sejak ratusan tahun lalu dan menjadi bagian dari budaya Tionghoa di Indonesia, terutama di wilayah Jawa Timur seperti Gresik, Surabaya, dan sekitarnya.
Mpopetir memiliki nilai sejarah yang tinggi. Nama “Potehi” berasal dari kata “pou” (kain), “te” (kantong), dan “hi” (wayang). Artinya, boneka yang terbuat dari kain yang digunakan sebagai media bercerita. Awalnya, pertunjukan ini diperkenalkan oleh perantau Tionghoa ke Indonesia, terutama dari provinsi Fujian. Seiring waktu, tradisi ini mengalami akulturasi dengan budaya lokal dan menjadi bagian penting dalam berbagai upacara keagamaan serta perayaan tradisional Tionghoa di Indonesia.
Salah satu kekuatan utama Mpopetir terletak pada ceritanya. Banyak kisah yang diangkat berasal dari cerita rakyat Tiongkok, seperti kisah kepahlawanan Guan Yu, kisah petualangan Sun Wukong, hingga legenda dewi Kwan Im. Cerita-cerita ini bukan hanya sekadar hiburan, tetapi juga sarat pesan moral tentang keberanian, kejujuran, kesetiaan, dan kasih sayang.
Namun, perkembangan zaman membuat popularitas Mpopetir menurun. Generasi muda saat ini lebih akrab dengan hiburan digital dan jarang mengenal atau menonton pertunjukan tradisional seperti ini. Beberapa komunitas seni berusaha keras untuk melestarikan tradisi ini dengan membuat pertunjukan Mpopetir lebih modern. Mereka menambahkan alur cerita baru yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari serta menggunakan media sosial untuk promosi.
Pelestarian Mpopetir menjadi tanggung jawab bersama. Pemerintah, komunitas seni, dan masyarakat diharapkan mendukung berbagai upaya untuk menjaga tradisi ini tetap hidup. Dengan demikian, Mpopetir bisa terus diwariskan kepada generasi berikutnya sebagai bagian dari kekayaan budaya Indonesia yang beragam.
Leave a Reply